Kekasih Kecil Tuhan

Written by Siti Lailatul Hajar (Bintang Sahara) on Sabtu, 05 Januari 2013 at 15.33


ketidaksadaranku mengenalmu. Menyayangimu. Lebih dari mencintai diriku.
Aku berlari dalam rengkuhmu. Denyut jantung berdegub. Kencang. Kencang. Dan semakin  kencang. Ah, jantungku masih hidup. Syukur ku ucapkan.
Sungguh, dengan begitupun ku dapat melihtmu. Mengauramu bagai obat jiwaku. Meski kau tak pernah menampakkan perwujudanmu. Aku tetap mencintaimu. Lebih dari diriku. Mencintai diriku.
Laut rindu bersemayam dalam kalbu. Aku merasakannya. Bagai padang merindu hujan. Bagai punuk merindu rembulan. Bagai rumi merindu sang guru.
Ohh, wahai hati yang bergoyang. Aku tak dapat menyentuhmu. Bahkan kau tak mau ikuti keinginanku. Betapa aku sungguh merindumu. Dalam nestapa, lara, duka, dan bahagia.
Engkaulah yang telah mengatur segala. Atas segala daya upaya. Atas keinginan hatiku. Atas semua kejadian alam duniaku. Sungguh, engkaulah yang telah mengatur semuanya. Berkolaborasi menjadi satu. Langit atapku. Bumi tempat pijakku. Mentari menjadi sinar pagiku. Dan rembulan penghias malam. Semua satu. Menjadi begitu indah. Menjadi sebuah makna.
Aku telah lama merindu. Dalam dekap malam, ku untaikan senandung pujian syahdu. Atas jiwaku yang peluh. Sungguh, aku begitu merindumu. Kelembutanmu dalam haru pilu. Kehangatanmu pada hati yang beku. Sungguh, ku amat merindumu.
Aku ingin bertemu denganmu. Bertemu dalam haru bahagia. Dalam sebuah keindahan taman surga. Dalam kenikmatan yang tiada tara. Aku hanya ingin bertemu denganmu dalam bahagia. Bukan siksa.
Selama aku merindu, senantiasa ku sebut namamu. Dalam tidurku, lelahku, riangku juga bahagiaku. Hanya kau yang menjadi pengisi kalbuku. Hanya kau yang ada dalam diriku. Menyatu bak garam dan air dalam lautan.
Ahh, sebesar itukah aku mengingatmu. Sepandai itukah aku menyimpan namamu. Seelok itukah aku bisa mennyatu denganmu.
Tidak, tidak, tidak…
Kau terlampau suci untuk dijamah. Tanganku tak mampu menyentuh meski hanya ujung jarimu. Kau terlalu indah untuk dilihat, hingga mata ii tak sanggup menangkapnya.
Arrgghhh…. Dasar. Dasar diriku kurang ajar. Aku bukanlah manusia suci. Setan masih seing menginjak-injak hatiku. Otakku disetirnya. Logikaku dipermainkannya. Hingga akhirnya aku tersesat. Jauh, jauh, nun semakin jauh di sana.
Kau tahu. Aku seringkali mempekerjakan tanganku untuk nafsu. Sepuluh jari tak berdosa yang senantiasa ku paksa bekerja. Memang tidak pada semestinya. Ku buat ia memukul para kekasihmu. Karena aku cemburu. Aku cemburu melihatnya begitu dekat denganmu. Aku cemburu ada hati lain yang ingin memilikimu. Aku tak kuasa melihat diriku yang tak mampu menjadi kekasihmu yang paling utama. Kekasih di atas kekasih. Lebih dari kau mencintai mereka. Untuk diriku.
Aku siapa? Sedikit pun tak ada yang ku lakukan. Hari ini baik. Esok belum tentu. Hari ini rajin bekerja. Mempekerjakan semua anggota tubuh. Hanya untuk mengharapkan cintamu. Hanya ingin aku saja yang kau cintai. Aku saja yang kau kasihani. Dan aku saja yang ada di sisimu.
Lihatlah!!! Sekarang kau tahu betapa egoisnya diriku. Aku tak ingin ada orang lain yang memilikimu. Kau hanya milikku seorang. Dan aku adalah kekasihmu. Satu-satunya kekasihmu. Jika memang aku belum pantas. Aku belum layak. Untuk disebut sebagai kekasihmu. Ajari aku. Bimbing aku. Dan tunjuki jalanmu. Agar aku bisa menjadi kekasihmu. Hanya kekasihmu saja.
Aku, kini sunguh merindu akan hadirmu. Dalam tidur dan bangunku. Sungguh, aku begitu merindumu. Izinkan aku bisa bertemu denganmu kelak. Dalam suasana bahagia. Di taman surga  yang indah.
Malang, 9 Septeber 2012, 00.25 WIB

0 Responses to "Kekasih Kecil Tuhan"

Pages

@suryacinta. Diberdayakan oleh Blogger.

Labels

Our Partners

Categories

Resources

Bookmarks

Bintang Sahara

Semua lebih berarti, apabila dihayati.