PUISI: Bulu kuduk merinding

Written by Siti Lailatul Hajar (Bintang Sahara) on Kamis, 24 Januari 2013 at 00.01


Bulu kuduk merinding

Melintasi nisan putih
Berjejer
Baris rapi
Bak bala tentara
Yang berperang
Membela agama Allah

Bulu kuduk semakin merinding
Saat asma-Mu ditakbirkan
Mulut sibuk komat-kamit
Tuk lantunkan tahmid
Hanya kepada-Mu
Ya Ilahi Robbi

Kaki sujud bersimpuh
Sesalkan segala dosa
Yang melekat dalam raga
Hatiku hanya sibuk bersama-Mu
Hanya sibuk bersemayam dalam rumah-Mu

Kudukku merinding hebat
Bukan karena angin dahsyat
Ada dengingan
Seperti gerombolan lebah
Yang hanya berdzikir,
Semakin menderu-deru
Menyentuh naluri kalbu

Kudukku benar-benar merinding
Di depan pusara Sunan Ampel
Akankah aku menjadi penerusmu?

Surabaya, 15 Januari 2013

renungan kehidupan bersama, Hidup Dalam Kotak Korek Api

Written by Siti Lailatul Hajar (Bintang Sahara) on Rabu, 09 Januari 2013 at 19.22


Hidup Dalam Kotak Korek Api
Kehidupan bagai air yang terus mengalir menemukan muara. Setiap hari, tentu akan menemukan hal baru. Kebahagiaan dan kesedihan dalam setiap rintangan selalu diterjang. Sama halnya dengan manusia. Manusia senantiasa berusaha untuk mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupannya. Apapun dan bagaimanapun caranya, ia ingin bermuara dalam haru tawa dan bahagia.
Tentunya, sebagai makhluk sosial, manusia tak kan terlepas dari orang lain. Meskipun hanya beberapa saja dari mereka. Entah hanya sekadar bertegur sapa atau hidup bersama-sama di dalamnya. Bahkan, untuk keluar saja mencari sesuap nasi di warung, pun masih membutuhkan manusia yang lain. Mulai dari kita menggunakan sandal, memakai baju, menggunakan jalan, mengendarai sepeda motor, dan membeli nasi tentunya. Semuanya tidak terlepas dari bantuan orang lain. Jadi, sangat tidak mungkinmanusia hidup dalam kesendirian yang mutlak.
Hidup bersama-sama dengan manusia yang lain, tentu akan bergesekan satu sama lain. Gesekan-gesekan ini terkadang membuat lecet jika tidak berhati-hati. Oleh karenanya, dalam bercakap-cakap atau bertindak harus berhati-hati agar tidak menimbulkan persellisihan diantara sesama manusia.
Terkadang, ada manusia yang lebih suka hidup dalam kesendiriannya. Menikmati alam dan udara tanpa adanya ganggguan dari manusia lain. Kita sebut ini sebagai manusia yang hidup dalam kotak korek api. Korek api yang hanya menghabiskan hdupnya dalam sebuah kotak kecil dengan orang-orang yang memiliki banyak persamaan dengan dirinya tentu akan berbeda dengan korek api yang hidup di alam buana. Penuh dengan kebebasan dan dapat bertemu dengan banyak orang.
Kita sebut keduanya berbeda karena korek api yang hanya hidup dalam kotak, ia akan lebih mudah tersulut oleh api kemarahan. Sehingga, tak sedikit mereka yang kurng dalam bergaul, memiliki rasa empati, simpati dan sensitif yang amat kecil. Sedangkan mereka, korek api yang hidup di alam buana lebih mudah meredam api kemarahan yang ada pada dirinya sendiri. Ia memiliki rasa tenggang rasa yang lebih tinggi.
Coba perhatikan, korek api mana yang lebih mudah tersulut api jika digesekkan?
Nah, kawan !!! teman, saudara, guru, dan semua orang yang ada di sekelliling kita bisa kita jadikan guru untuk menadi pribadi yang lebih baik lagi.
Nantikan episde selanjutnya, sukses bergaul dengan beragam orang…… keep spirit (^_^)

Ungkapan Ulang Tahun Untuk Sahabat Sejati

Written by Siti Lailatul Hajar (Bintang Sahara) on Senin, 07 Januari 2013 at 21.16

teruntuk sahabatku tercinta, Icha Alie, yang selalu menjadi sosok ibu di kamar kami tinggal,,,,,,,
hanya bait puisi ini yang bisa ku beri nan untaian doa... semoga panjang umur dan hidup semakin bermakna....

Senja masih merah waktu itu
Dan kita masih bercerita tentang hari esok yang masih misteri
Kau mau menjadi sesuatu ceritamu waktu itu
Dan aku mengangguk pelan sambil menatap lurus ke depan

Aku tahu lanjutmu
Hidup bukan seperti puisi atau cerita yang biasanya berujung bahagia
Tapi hidup adalah membuka mata
Membelalakkan mata
Untuk melihat lebih dekat
Semua

Kita mungkin selalu berbeda
Tapi tidak dalam segala
Ada beribu ulat ingin menjadi kupukupu
Tapi mungin ada satu ulat yang hanya ingin menjadi ulat saja
Ada banyak kunangkunang ingin terbang memperlihatkan cahayanya yang terang
Tapi mungkin ada satu kunangkunang ingin masuk ke kedalaman bumi dan menjadi satusatunya penerang di sana
Hidup itu tentang berarti

Ada banyak hal yang mungkin kita tidak mengerti
Sebenaarnya akan mengerti
Tapi nanti
Pada suatu saat yang telah diberkati
Ilahi
Agar kita mengerti lebih dalam tentang makna
Bahwa terlahir bukanlah suatu yang diminta
Tapi ditakdirkan ada
Bahwa hidup bukan sekedar bertahan
Tapi berjuang

Adapun untuk kalah dan menang
Jangan pula jadi pertimbangan
Tidak semua kekalahan adalah akhir dari sgalanya
Bukankah kiamat tidak terjadi hari ini?
Ya, agar kau,
Kita maksudku
Dapat mengulangnya kembali dan membenahinya lebih baik lagi

Senja masih merah waktu itu
Dan malam akan datang
Dan kau merindukan pagi
Aku lihat dari sudut mata rindumu
 Aku lihat dari keharuanmu
Kau ingin mengulang ingat
Ya, aku tahu itu
Kau ingin mengingat jerit pertamamu di dunia
Kelahiranmu

Selamat Ulang Tahun Sahabatku..

Indonesia, 2013

Renungan Awal Tahun

Written by Siti Lailatul Hajar (Bintang Sahara) on Sabtu, 05 Januari 2013 at 16.47


Renungan dalam Halaqoh edisi minggu pertama di Bulan Januari 2013, melalui pemikiran Prof. KH. Achmad Mudlor, S.H. 

“Ya Allah, samakanlah hati dan langkah kami dengan apa yang senantiasa kami dzikirkan setiap waktu.”
“Ya Allah, begitu banyak kenikmatan2 yang belum kami syukuri. Tuntunlah jiwa dan raga kami untuk senantiasa mensyukuri segala karunia yang Kau berikan. Jadikanlah besyukur kami dengan banyak berbuat sesuatu yang positif serta banyak memberi kemanfaatan untuk ummat.”
“Ya Allah, betapa hamba menyadari bahwa kennikmatan2 yang begitu banyak itu belum menjadikan hati kami tergerak untuk beramal, padahal cepat atau lambat kami sedang diintai oleh kematian.”
“Ya Allah, selama ini kami hanya disibukkan oleh tugas2 yang diberikan oleh sesama manusia. Kami merantau, bertempat jauh hanya untuk mencari sesuap nasi atau gelar yang belum tentu dihormati orang serta belum tentu mendatangkan Ridlo-Mu.”
“Ya Allah, pengetahuan kami sungguh teramat sedikit. Pengetahuan kami belum cukup untuk mencakup dalam setiap lini kehidupan. Pengetahuan kami hanyalah stimulus saja, bukan alat untuk memaksa kami beramal dan berjuang membela agama-Mu, Islam.”
“Ya Allah, samakanlah hati dan langkah kami dengan apa yang senantiasa kami dzikirkan setiap waktu.”
“Ya Allah, tuntunlah kami selalu.”

Malang, 5 Januari 2013

POEM TO MOTHER

Written by Siti Lailatul Hajar (Bintang Sahara) on at 15.42


POEM
This is a poem that I write for my mother. My mother is full of love and very patient. When I did mistakes, she is never angry. She remind me with a smooth voice, no angry there. If my mom can understand English, I am sure she will hug me and cry.
Mom, I really want to make you happy. This poem is one of my to express my feeling. I really love you mom. You always in my heart.

My Mother
By: Bintang Sahara
She always gives me affection
Ignores tired and sighed
To take care her children
Immolates her life for her relative

Labours of love every time
At night and noon
In the morning and afternoon
Lumbers up all requisties
Alters ego for me and all
Takes under one’s wing to our existance
Unrivalled in this world
Love- worthy by full meaning of  love

Hundreds of mother on the earth
Again and again dashes against
Juggle with something be better
And my mother is the best mother
Respectful love for you mom, from me.

Kekasih Kecil Tuhan

Written by Siti Lailatul Hajar (Bintang Sahara) on at 15.33


ketidaksadaranku mengenalmu. Menyayangimu. Lebih dari mencintai diriku.
Aku berlari dalam rengkuhmu. Denyut jantung berdegub. Kencang. Kencang. Dan semakin  kencang. Ah, jantungku masih hidup. Syukur ku ucapkan.
Sungguh, dengan begitupun ku dapat melihtmu. Mengauramu bagai obat jiwaku. Meski kau tak pernah menampakkan perwujudanmu. Aku tetap mencintaimu. Lebih dari diriku. Mencintai diriku.
Laut rindu bersemayam dalam kalbu. Aku merasakannya. Bagai padang merindu hujan. Bagai punuk merindu rembulan. Bagai rumi merindu sang guru.
Ohh, wahai hati yang bergoyang. Aku tak dapat menyentuhmu. Bahkan kau tak mau ikuti keinginanku. Betapa aku sungguh merindumu. Dalam nestapa, lara, duka, dan bahagia.
Engkaulah yang telah mengatur segala. Atas segala daya upaya. Atas keinginan hatiku. Atas semua kejadian alam duniaku. Sungguh, engkaulah yang telah mengatur semuanya. Berkolaborasi menjadi satu. Langit atapku. Bumi tempat pijakku. Mentari menjadi sinar pagiku. Dan rembulan penghias malam. Semua satu. Menjadi begitu indah. Menjadi sebuah makna.
Aku telah lama merindu. Dalam dekap malam, ku untaikan senandung pujian syahdu. Atas jiwaku yang peluh. Sungguh, aku begitu merindumu. Kelembutanmu dalam haru pilu. Kehangatanmu pada hati yang beku. Sungguh, ku amat merindumu.
Aku ingin bertemu denganmu. Bertemu dalam haru bahagia. Dalam sebuah keindahan taman surga. Dalam kenikmatan yang tiada tara. Aku hanya ingin bertemu denganmu dalam bahagia. Bukan siksa.
Selama aku merindu, senantiasa ku sebut namamu. Dalam tidurku, lelahku, riangku juga bahagiaku. Hanya kau yang menjadi pengisi kalbuku. Hanya kau yang ada dalam diriku. Menyatu bak garam dan air dalam lautan.
Ahh, sebesar itukah aku mengingatmu. Sepandai itukah aku menyimpan namamu. Seelok itukah aku bisa mennyatu denganmu.
Tidak, tidak, tidak…
Kau terlampau suci untuk dijamah. Tanganku tak mampu menyentuh meski hanya ujung jarimu. Kau terlalu indah untuk dilihat, hingga mata ii tak sanggup menangkapnya.
Arrgghhh…. Dasar. Dasar diriku kurang ajar. Aku bukanlah manusia suci. Setan masih seing menginjak-injak hatiku. Otakku disetirnya. Logikaku dipermainkannya. Hingga akhirnya aku tersesat. Jauh, jauh, nun semakin jauh di sana.
Kau tahu. Aku seringkali mempekerjakan tanganku untuk nafsu. Sepuluh jari tak berdosa yang senantiasa ku paksa bekerja. Memang tidak pada semestinya. Ku buat ia memukul para kekasihmu. Karena aku cemburu. Aku cemburu melihatnya begitu dekat denganmu. Aku cemburu ada hati lain yang ingin memilikimu. Aku tak kuasa melihat diriku yang tak mampu menjadi kekasihmu yang paling utama. Kekasih di atas kekasih. Lebih dari kau mencintai mereka. Untuk diriku.
Aku siapa? Sedikit pun tak ada yang ku lakukan. Hari ini baik. Esok belum tentu. Hari ini rajin bekerja. Mempekerjakan semua anggota tubuh. Hanya untuk mengharapkan cintamu. Hanya ingin aku saja yang kau cintai. Aku saja yang kau kasihani. Dan aku saja yang ada di sisimu.
Lihatlah!!! Sekarang kau tahu betapa egoisnya diriku. Aku tak ingin ada orang lain yang memilikimu. Kau hanya milikku seorang. Dan aku adalah kekasihmu. Satu-satunya kekasihmu. Jika memang aku belum pantas. Aku belum layak. Untuk disebut sebagai kekasihmu. Ajari aku. Bimbing aku. Dan tunjuki jalanmu. Agar aku bisa menjadi kekasihmu. Hanya kekasihmu saja.
Aku, kini sunguh merindu akan hadirmu. Dalam tidur dan bangunku. Sungguh, aku begitu merindumu. Izinkan aku bisa bertemu denganmu kelak. Dalam suasana bahagia. Di taman surga  yang indah.
Malang, 9 Septeber 2012, 00.25 WIB

Example of Exposition Essay

Written by Siti Lailatul Hajar (Bintang Sahara) on Rabu, 02 Januari 2013 at 18.56


 102 Minutes in Pentagon Change the World
by: Siti Lailatul Hajar
Tragedy on September 11, 2001 as long as around 102 minutes has led to the media giving Islam a lot of attention. Islam and Muslims have been accused as terrorist after World Trade Center (WTC) Tragedy in Pentagon, in the United States of America. People assume that Muslim’s creed brings to violence. Although, the media has mostly reported negatively about Muslims and Islam, it has made people research about Islam curiously. This has attracted many people to find the truth about Islam and readily accept it as their faith. World Trade Center bombing tragedy has brought Islam to be a very-well known religion in the United States and interested Europeans to be Muslims.
To begin with, through this tragedy, Islam has been familiar in the United States. First, American passionately begin to learn more about Islam. In Al-Hayat, London daily Newspaper, American are now interested in getting to know Islam is appeared by thousands of non-Muslim American have responded to invitations to visit mosques to listen Islamic speech. Besides, the number of Islamic books and Holy Quran highly increase. Al-Hayat reports that libraries have run out of books on Islam, and English translations of the Quran head the American best-seller list. In addition, Aly R Abuzaakouk, Director of American Muslim Council (AMC), said that many Islamic books sold in whole areas in the United States. People there pursued Islamic books to inquire about Islam. Similarly, Executive Director of Council on American-Islamic Relation (CAIR), Dr Nihad Awad, told that the most popular sold-book after WTC tragedy is Islamic books, included Quran. Moreover, many American convert to Islam. In a New York Times article, Islam Attracts Converts by the Thousands, contains interviews with converts, analyses Islam's rapid rise in the United States, and states: with some 6 million adherents in the United States, Islam is said to be the nation's fastest-growing religion, fueled by immigration, high birth rates and widespread conversion. One expert estimates that 25,000 people a year become Muslims in this country; some clerics say they have seen conversion rates quadruple since September 11, 2001. So, now many American get a true principle about Islam and turn to Islam.
Furthermore, the acceptance of Islam in Europe turns much better. In several countries such as Germany and France, Islam attracts many followers. The study sheds light on a phenomenon that in Germany, some 4,000 people converted to Islam between July 2004 and June 2005. Likewise, the study, which was financed by the Interior Ministry and carried out by the Soest-based Muslim institute Islam Archive Germany, reveals that the number of converts increased four-fold in comparison to the previous year in Germany. Whether increasing follower in French as in a June 20, 2004 story on NTV News, headed Islam is the most rapidly expanding religion in Europe, dealt with a report drawn up by the French domestic intelligence agency. The report stated that the number of those converting to Islam in Western countries had risen still further, particularly in the wake of World Trade Center bombing tragedy attacks. For example, the number of converts to Islam in France increased by between 30 and 40,000 last year alone. While, The Pew Research Center (October 2009) estimates the number of Muslims in Europe in 2009 at 38.1 million, which according to their data constitutes 5.2 percent of the European population. So that, bombing tragedy in Pentagon has attracted European to be Muslims.
In short, many American and European open their eyes about Islam since World Trade Center bombing tragedy. They know well what Islam is. Although there are plenty of mosques and Muslims in the west countries, many Muslims are suffered, and discrimination to Muslims is still high. Therefore, as a good Muslim should give a kind model that Islam is a peace religion for all people in the world.

Pages

@suryacinta. Diberdayakan oleh Blogger.

Labels

Our Partners

Categories

Resources

Bookmarks

Bintang Sahara

Semua lebih berarti, apabila dihayati.