DAFTAR HARI BESAR NASIONAL INDONESIA

Written by Siti Lailatul Hajar (Bintang Sahara) on Jumat, 20 Januari 2012 at 02.44


NO
TANGGAL
KETERANGAN
1
1 Januari
Hari Perdamaian Dunia
2
5 Januari
HUT Korps Wanita Angkatan Laut
3
25 Januari
Hari Gizi
4
25 Januari
Hari Kusta Internasional
5
9 Februari
Hari Pers Nasional
6
1 Maret
Hari Kehakiman Indonesia
7
6 Maret
Hari Kostrad
8
8 Maret
Hari Wanita Internasional
9
10 Maret
Hut PARFI
10
23 Maret
Hari Metereologi Sedunia
11
30 Maret
Hari Film Indonesia
12
1 April
HUT Bank Dunia
13
6 April
Hari Nelayan Indonesia
14
7 April
Hari Kesehatan Indonesia
15
9 April
Hari Penerbangan Nasional
16
19 April
Hari HANSIP
17
21 April
Hari Kartini
18
24 April
Hari Angkutan Nasional
19
27 April
Hari Lembaga Pemasyarakatan Indonesia
20
1 Mei
Hari Buruh Internasional
21
22
5 Mei
Hari Lembaga Sosial Desa
23
8 Mei
Hari Palang Merah Internasional
24
11 Mei
Hari POM TNI
25
26
27
21 Mei
Suksesi Soeharto
28
31 Mei
Peringatan Hari Tanpa Tembakau se-Dunia
29
1 Juni
Hari Lahirnya Pancasila
30
3 Juni
Hari Pasar & Modal Indonesia
31
32
21 Juni
Hari Krida Pertanian
33
34
24 Juni
Hari Bidan Indonesia
35
36
37
5 Juli
Hari Bank Indonesia
38
9 Juli
Hari Peluncuran Satelit Palapa
39
12 Juli
Hari Koperasi Indonesia
40
22 Juli
Hari Kejaksaan
41
42
43
10 Agustus
Hari Veteran Nasional
44
45
46
18 Agustus
Hari Konstitusi Indonesia
47
19 Agustus
Hari Departemen Luar Negeri
48
21 Agustus
Hari Maritim Nasional
49
24 Agustus
HUT TVRI
50
1 September
Hari POLWAN
51
4 September
Hari Pelanggan Nasional (mulai 2003)
52
53
8 September
Hari Pamong Praja
54
55
11 September
Hari Radio Republik Indonesia
56
17 September
Hari Perhubungan Nasional
57
24 September
Hari Agraria Nasional / Hari Tani
58
28 September
Hari Kereta Api
59
29 September
Hari Sarjana
60
30 September
Hari Pemberontakan PKI
61
1 Oktober
Hari Kesaktian Pancasila
62
5 Oktober
HUT Tentara Nasional Indonesia
63
9 Oktober
Hari Surat Menyurat Internasional
64
14 Oktober
Hari Pangan Sedunia
65
16 Oktober
Hari Parlemen RI
66
67
68
30 Oktober
Hari Keuangan
69
10 November
Hari Pahlawan
70
12 November
Hari Kesehatan Nasional
71
14 November
Hari BRIMOB
72
21 November
Hari Pohon
73
25 November
Hari Guru / HUT PGRI
74
1 Desember
Hari AIDS sedunia
75
4 Desember
Hari Artileri
76
9 Desember
Hari Armada RI
77
10 Desember
Hari HAM
78
12 Desember
Hari Transmigrasi
79
15 Desember
Hari Infantri
80
19 Desember
HUT Tentara Nasional Indonesia
81
22 Desember
Hari Ibu
82
22 Desember
Hari Sosial


kata-kata orang bijak

Written by Siti Lailatul Hajar (Bintang Sahara) on at 02.43


Sebelum anda melakukan hampir segalanya dalam hidup anda, baik secara sadar maupun tidak, anda akan bertanya pada diri anda tentang pertanyaan penting ini, “Apa manfaatnya bagiku?” –Bobbi DePorter-

Musuh terbesar manusia adalah keraguan dan ketakutan yang bersemayam di dalam dirinya. –William Wrigley, Jr.-

Menulislah dengan alasan apapun asal bukan untuk meremehkan. –Stephen King-

Saya menulis hampir setiap hari. Kadang saya menulis selama sepuluh atau sebelas jam. Pada hari lain, saya hanya menulis selama tiga jam. –J.K. Rowling-

Anda sedang menulis skenario yang tidak mungkin ditulis oleh orang lain. Sebuah cerita yang berkobar dalam diri anda adalah skenario yang “komersial”. Anda tidak menjadi penulis kelas dua di bawah siapapun. Anda menjadi yang terbaik bagi diri anda sendiri. Anda memiliki satu hal yang layak jual sebagai seorang penulis-sudut pandang anda. Sudut pandang anda adalah sebuah cara unik untuk melihat dunia berdasarkan seluruh pengalaman anda dan bagaimana anda merasakan dunia seputar anda.­  -Viki King-

Siapa yang memiliki alasan untu hidup akan sanggup mengatasi persoalan hidup lewat cara apapun.-Nietsche-

Jika anda tidak meminta, anda tidak akan mendapatkan. -Gandhi-

Apa yang ada di hadapan kita dan apa yang ada di belakang kita, hanyalah hal-hal kecil bila dibandingkan dengan apa yang ada di dalam diri kita. –Oliver Wendell Holmes-

Yang dibutuhkan untuk meraih segala angan anda dalam hidup ini,ada di dalam diri anda. –Barbara De Angelis-

resensi buku

Written by Siti Lailatul Hajar (Bintang Sahara) on Selasa, 17 Januari 2012 at 17.07

Spektrum Gender dalam Ranah Fiqih
Judul buku    : Fiqih Perempuan, Berwawasan Keadilan Gender
Penulis          : Dr. Tutik Hamidah, M.Ag                                       
Cetakan        : 2011
Penerbit        : UIN Maliki Press (Anggota IKAPI)
Tebal             : xxiii + 269 halaman
Peresensi       : Siti Lailatul Hajar *)

Banyak kaum feminis yang masih beranggapan bahwa perempuan masih berada dalam kekuasaan otoritas laki-laki. Mereka berpikir kaum perempuan dianggap tidak bisa melakukan banyak hal seperti kaum laki-laki. Kaum laki-laki lebih superior daripada perempuan. Ada perbedaan perlakuan yang menonjol dalam hukum fiqih Islam yang dianggap lebih menguntungkan laki-laki. Seperti perlakuan dalam pembagian warisan, pernikahan, hak-hak politik perempuan, dan lain sebagainya. Seolah-olah ada ketidakseimbangan atau ketidakadilan yang dirasakan oleh kaum perempuan. Inilah yang kemudian disebut-sebut oleh mereka sebagai ketidakadilan gender.

Bersama dengan kelompoknya, kaum feminis berusaha untuk memperjuangkan misi keadilan dan kesetaraan gender  dengan cara merekonstruksi fiqih perempuan. Perubahan hukum di dalam fiqih memang dibenarkan, bahkan bisa menjadi suatu keharusan jika kondisi sosiologis masyarakat berubah. Perubahan hukum itu semata untuk mencapai kemaslahatan manusia lahir, batin, duniawi, dan ukhrowi.

Pasalnya, kaum feminis terus menerus melakukan rekonstruksi fiqih perempuan yang dianggap merendahkan derajat perempuan dan mendiskriminasi hak-hak perempuan. Gerakan perempuan yang dinamis ini mendapati sorotan dari berbagai pihak. Ada yang berpendapat bahwa kaum feminis tersebut telah hanyut dalam arus liberalisasi dan sekulerisasi yang dibawa oleh peradaban Barat. Kaum feminis ini telah mengkritik fiqih klasik secara liar. Mereka tidak memiliki metode yang bisa dipertanggungjawabkan. Luapan-luapan kritik atas pemikiran ulama’ klasik justru lebih dominan.

Buku Fiqih Perempuan, Berwawasan Keadilan Gender yang ditulis melalui penelitian yang panjang ini berupaya menyajikan dekonstruksi fiqih perempuan klasik sekaligus rekonstruksi yang lebih responsif dan akomodatif terhadap kebutuhan perempuan pada masa sekarang, karena perempuan masa kini telah mencapai tahap kemajuan setara dengan laki-laki. Perempuan mampu berkarir, bekerja, atau bahkan memimpin sebuah instansi. Lalu bagaimanakah pandangan hukum dalam fiqih Islam? Lalu mengapa pula tidak ditemui seorang perempuan melakukan azan dan menjadi imam sholat untuk kaum laki-laki? Temukan jawabannya! Dan masih banyak lagi yang akan anda temukan dalam buku ini mengenai pembeda antara kaum perempuan dan kaum laki-laki.

Gaya pemaparan dengan lugas dan jelas berdasarkan penelitian analisis gender yang telah dilakukannya dan fakta-fakta di lapangan memberi kualitas berbeda. Sebab, penulis dalam melakukan penelitian ini tidak sembarang dalam mengambil keputusan, karena penulis menggunakan dasar-dasar teologis dan metodologis yang dapat dipertanggungjawabkan. Pandangan teologis dan metodologisnya digali dari karya tokoh-tokoh aktivis gerakan perempuan seperti Masdar Farid Mas’udi, Husein Muhammad, Syafi’ Hasyim, Siti Musdah Mulia dan Maria Ulfah Ansor. Pembahasan ini selanjutnya akan digunakan untuk menganalisis pemikiran fiqih.

Wujudnya, karya ini meletakkan rekonstruksi fiqih perempuan dengan perspektif kesetaraan dan keadilan gender dalam ranah ilmu ushul fiqih. Sehingga rekonstruksi yang dilakukannya tidak menyimpang dari jalur Islam. Penghilangan unsur-unsur budaya yang sudah tidak relevan lagi pada zaman sekarang dilakukan penulis pula dengan tetap mengambil dan mempertahankan nilai-nilai dan substansi fiqih. Sehingga jelas bahwa bukan berarti mengabaikan fiqih klasik yang sudah nyata menjadi pilar peradaban Islam selama berabad-abad. Namun, mengaktualkan fiqih pada realitas yang sedang dihadapi pada masa sekarang.

Kondisi kaum perempuan saat ini dalam realitasnya telah jauh berbeda dengan kaum perempuan pada masa dahulu. Saat ini kaum perempuan mampu memegang kendali yang pada umumnya dipegang oleh kaum laki-laki. Sehingga diperlukan perekonstruksian hukum fiqih perempuan untuk mencapai kemaslahatan umat.

Selain itu, dalam pemaparannya, penulis memberikan jawaban atas tuduhan Barat yang menganggap bahwa Islam merendahkan perempuan dan tidak memberikan hak-hak yang sama antara laki-laki dengan perempuan. Bagaimana sesunggguhnya ihwal sebenarnya Islam memperlakukan kaum perempuan. Bagaimana pula seharusnya memperlakukan perempuan dan bagaimana bersikap memjadi perempuan.
Banyak buku rekonstruksi fiqih perempuan yang dihasilkan oleh kelompok aktivis  gerakan perempuan muslim di Indonesia. Secara kualitatif sudah mendapat pujian positif dari pemerhati perempuan. Namun, ada sisi lain dari buku ini yaitu lebih menonjolkan historical continuity-nya dengan fiqih dan ushul fiqih mazhab secara sistematis baik metode maupun aplikasinya.

Betul memang, karya ini berisi aktualisasi kesederajatan manusia dan keadilan gender di dalam semua bidang, baik dalam bidang sosial, ekonomi, politik, hubungan suami istri dan urusan rumah tangga sehari-hari yang lebih sehat, harmonis, dan serasi ini selayaknya mendapat apresiasi tinggi. Bentuk apresiasi tinggi itu dengan membacanya guna menambah dan memperdalam khazanah pengetahuan kita khususnya mengenai kesetaraan dan keadilan gender yang masih berada dalam spektrum Islam.

*Aktif di Institute of Studies Research and Development for Student (ISRDs) dan Forkafi (Forum Kajian Fiqih )
Mahasiswa Fakultas Humaniora dan Budaya di Universitas Islam Negeri Maliki Malang



DASAR-DASAR ANALISIS PUISI

Written by Siti Lailatul Hajar (Bintang Sahara) on Senin, 12 Desember 2011 at 21.13


Lembar komunikasi Bahasa dan Sastra Indonesia

SMA Stella Duce 2 Yogyakarta

Jl. Dr. Sutomo 16 Telp. (0274) 513129 Yogyakarta

Disusun oleh Agustinus Suyoto

I.             PENGERTIAN

Secara etimologis istilah puisi berasal dari kata bahasa Yunani poites, yang berarti pembangun, pembentuk, pembuat. Dalam bahasa Latin dari kata poeta, yang artinya membangun, menyebabkan, menimbulkan, menyair. Dalam perkembangan selanjutnya, makna kata tersebut menyempit menjadi hasil seni sastra yang kata-katanya disusun menurut syarat tertentu dengan menggunakan irama, sajak dan kadang-kadang kata kiasan (Sitomorang, 1980:10).
Menurut Vicil C. Coulter, kata poet berasal dari kata bahasa Gerik yang berarti membuat, mencipta. Dalam bahasa Gerik, kata poet berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang yang hampir menyerupai dewa-dewa atau orang yang amat suka pada dewa-dewa. Dia adalah orang yang mempunyai penglihatan yang tajam, orang suci, yang sekaligus seorang filsuf, negarawan, guru, orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi (Situmorang, 1980:10)).
Ada beberapa pengertian lain.
a.       Menurut Kamus Istilah Sastra (Sudjiman, 1984), puisi merupakan ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait.
b.      Putu Arya Tirtawirya (1980:9) mengatakan bahwa puisi merupakan ungkapan secara implisit, samar dengan makna yang tersirat di mana kata-katanya condong pada makna konotatif.
c.       Ralph Waldo Emerson (Situmorang, 1980:8) mengatakan bahwa puisi mengajarkan sebanyak mungkin dengan kata-kata sesedikit mungkin.
d.      William Wordsworth (Situmorang, 1980:9) mengatakan bahwa puisi adalah peluapan yang spontan dari perasaan-perasaan yang penuh daya, memperoleh asalnya dari emosi atau rasa yang dikumpulkan kembali dalam kedamaian.
e.       Percy Byssche Shelly (Situmorang, 1980:9) mengatakan bahwa puisi adalah rekaman dari saat-saat yang paling baik dan paling senang dari pikiran-pikiran yang paling senang.
f.        Watt-Dunton (Situmorang, 1980:9) mengatakan bahwa puisi adalah ekpresi yang kongkret dan yang bersifat artistik dari pikiran manusia dalam bahasa emosional dan berirama.
g.       Lescelles Abercrombie (Sitomurang, 1980:9) mengatakan bahwa puisi adalah ekspresi dari pengalaman imajinatif, yang hanya bernilai serta berlaku dalam ucapan atau pernyataan yang bersifat kemasyarakatan yang diutarakan dengan bahasa yang mempergunakan setiap rencana yang matang serta bermanfaat.

II.                PERBEDAAN PUISI DAN PROSA
HB. Jassin (1953:54) mengatakan bahwa untuk mendefinisikan puisi, puisi itu harus dikaitkan dengan definisi prosa. Prosa merupakan pengucapan dengan pikiran, sedangkan puisi merupakan pengucapan dengan perasaan.
Rahmanto dan Dick Hartoko (1986) mengatakan bahwa puisi merupakan lawan terhadap prosa. Ungkapan bahasa yang terikat (puisi), lawan ungkapan bahasa yang tidak terikat (prosa). Keterikatan oleh paralelisme, metrum, rima, pola bunyi, dsb. Pada sastra modern perbedaan puisi dan prosa sangat kabur.
Luxemburg (1992) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan teks puisi adalah teks-teks monolog yang isinya tidak pertama-tama merupakan sebuah alur. Selain itu teks puisi bercirikan penyajian tipografik tertentu. Tipografik ini merupakan ciri yang paling menonjol dalam puisi. Apabila kita melihat teks yang barisnya tidak selesai secara otomatis kita menganggap bahwa teks tersebut merupakan teks puisi.
Rachmad Djoko Pradopo (1987) mengatakan bahwa dewasa ini orang mengalami kesulitan dalam membedakan puisi dan prosa hanya dari bentuk visualnya sebagai sebuah karya tertulis. Sampai-sampai sekarang ini dikatakan bahwa niat pembacalah yang menjadi ciri sastra utama.
Alterbern (dalam Pradopo, 1987) mengatakan bahwa puisi adalah pendramaan pengalaman yang bersifat penafsiran dalam bahasa berirama. Ada tiga unsur pokok dalam puisi yaitu pemikiran/ide/emosi, bentuk, dan kesan. Jadi puisi mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi panca indra dalam susunan bahasa yang berirama.
Slametmulyana (1956:112) mengatakan bahwa ada perbedaan pokok antara prosa dan puisi. Pertama, kesatuan prosa yang pokok adalah kesatuan sintaksis, sedangkan kesatuan puisi adalah kesatuan akustis. Kedua puisi terdiri dari kesatuan-kesatuan yang disebut baris sajak, sedangkan dalam prosa kesatuannya disebut paragraf. Ketiga di dalam baris sajak ada periodisitas dari mula sampai akhir.
Pendapat lain mengatakan bahwa perbedaan prosa dan puisi bukan pada bahannya, melainkan pada perbedaan aktivitas kejiwaan. Puisi merupakan hasil aktivitas pemadatan, yaitu proses penciptaan dengan cara menangkap kesan-kesan lalu memadatkannya (kondensasi). Prosa merupakan aktivitas konstruktif, yaitu proses penciptaan dengan cara menyebarkan kesan-kesan dari ingatan (Djoko Pradopo, 1987).
Perbedaan lain terdapat pada sifat. Puisi merupakan aktivitas yang bersifat pencurahan jiwa yang padat, bersifat sugestif dan asosiatif. Sedangkan prosa merupakan aktivitas yang bersifat naratif, menguraikan, dan informatif (Pradopo, 1987)
Perbedaan lain yaitu puisi menyatakan sesuatu secara tidak langsung, sedangkan prosa menyatakan sesuatu secara langsung.

III.             UNSUR-UNSUR PEMBENTUK PUISI

Ada beberapa pendapat tentang unsur-unsur pembentuk puisi. Salah satunya adalah pendapat I.A. Richard. Dia membedakan dua hal penting yang membangun sebuah puisi yaitu hakikat puisi (the nature of poetry), dan metode puisi (the method of poetry).
Hakikat puisi terdiri dari empat hal pokok, yaitu
1.      Sense (tema, arti)
Sense atau tema adalah pokok persoalan (subyek matter) yang dikemukakan oleh pengarang melalui puisinya. Pokok persoalan dikemukakan oleh pengarang baik secara langsung maupun secara tidak langsung (pembaca harus menebak atau mencari-cari, menafsirkan).
2.      Feling (rasa)
Feeling adalah sikap penyair terhadap pokok persoalan yang dikemukakan dalam puisinya. Setiap penyair mempunyai pandangan yang berbeda dalam menghadapi suatu persoalan.
3.      Tone (nada)
Yang dimaksud tone adalah sikap penyair terhadap pembaca atau penikmat karyanya pada umumnya. Terhadap pembaca, penyair bisa bersikap rendah hati, angkuh, persuatif, sugestif.
4.      Intention (tujuan)
Intention adalah tujuan penyair dalam menciptakan puisi tersebut. Walaupun kadang-kadang tujuan tersebut tidak disadari, semua orang pasti mempunyai tujuan dalam karyanya. Tujuan atau amanat ini bergantung pada pekerjaan, cita-cita, pandangan hidup, dan keyakinan yang dianut penyair

Untuk mencapai maksud tersebut, penyair menggunakan sarana-sarana. Sarana-sarana tersebutlah yang disebut metode puisi. Metode puisi terdiri dari
1.      Diction (diksi)
Diksi adalah pilihan atau pemilihan kata yang biasanya diusahakan oleh penyair dengan secermat mungkin. Penyair mencoba menyeleksi kata-kata baik kata yang bermakna denotatif maupun konotatif sehingga kata-kata yanag dipakainya benar-benar mendukung maksud puisinya.
2.      Imageri (imaji, daya bayang)
Yang dimaksud imageri adalah kemampuan kata-kata yang dipakai pengarang dalam mengantarkan pembaca untuk terlibat atau mampu merasakan apa yang dirasakan oleh penyair. Maka penyair menggunakan segenap kemampuan imajinasinya, kemampuan melihat dan merasakannya dalam membuat puisi.
Imaji disebut juga citraan, atau gambaran angan. Ada beberapa macam citraan, antara lain
  1. citra penglihatan, yaitu citraan yang timbul oleh penglihatan atau berhubungan dengan indra penglihatan
  2. Citra pendengaran, yaitu citraan yang timbul oleh pendengaran atau berhubungan dengan indra pendengaran
  3. Citra penciuman dan pencecapan, yaitu citraan yang timbul oleh penciuman dan pencecapan
  4. Citra intelektual, yaitu citraan yang timbul oleh asosiasi intelektual/pemikiran.
  5. Citra gerak, yaitu citraan yang menggambarkan sesuatu yanag sebetulnya tidak bergerak tetapi dilukiskan sebagai dapat bergerak.
  6. Citra lingkungan, yaitu citraan yang menggunakan gambaran-gambaran selingkungan
  7. Citra kesedihan, yaitu citraan yang menggunakan gambaran-gambaran kesedihan
3.      The concrete word (kata-kata kongkret)
Yang dimaksud the concrete word adalah kata-kata yang jika dilihat secara denotatif sama tetapi secara konotatif mempunyai arti yang berbeda sesuai dengan situasi dan kondisi pemakaiannya. Slametmulyana menyebutnya sebagai kata berjiwa, yaitu kata-kata yang telah dipergunakan oleh penyair, yang artinya tidak sama dengan kamus.
4.      Figurative language (gaya bahasa)
Adalah cara yang dipergunakan oleh penyair untuk membangkitkan dan menciptakan imaji dengan menggunakan gaya bahasa, perbandingan, kiasan, pelambangan dan sebagainya. Jenis-jenis gaya bahasa antara lain
  1. perbandingan (simile), yaitu bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain dengan mempergunakan kata-kata pembanding seperti bagai, sebagai, bak, seperti, semisal, umpama, laksana, dll.
  2. Metafora, yaitu bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain tanpa mempergunakan kata-kata pembanding.
  3. Perumpamaan epos (epic simile), yaitu perbandingan yang dilanjutkan atau diperpanjang dengan cara melanjutkan sifat-sifat perbandingannya dalam kalimat berturut-turut.
  4. Personifikasi, ialah kiasan yang mempersamakan benda dengan manusia di mana benda mati dapat berbuat dan berpikir seperti manusia.
  5. Metonimia, yaitu kiasan pengganti nama.
  6. Sinekdoke, yaitu bahasa kiasan yang menyebutkan suatu bagian yang penting untuk benda itu sendiri.
  7. Allegori, ialah cerita kiasan atau lukisan kiasan, merupakan metafora yang dilanjutkan.
5.      Rhythm dan rima (irama dan sajak)
Irama ialah pergantian turun naik, panjang pendek, keras lembutnya ucapan bunyi bahasa dengan teratur. Irama dibedakan menjadi dua,
  1. metrum, yaitu irama yang tetap, menurut pola tertentu.
  2. Ritme, yaitu irama yang disebabkan perntentangan atau pergantian bunyi tinggi rendah secara teratur.
Irama menyebabkan aliran perasaan atau pikiran tidak terputus dan terkonsentrasi sehingga menimbulkan bayangan angan (imaji) yang jelas dan hidup. Irama diwujudkan dalam bentuk tekanan-tekanan pada kata. Tekanan tersebut dibedakan menjadi tiga,
  1. dinamik, yaitu tyekanan keras lembutnya ucapan pada kata tertentu.
  2. Nada, yaitu tekanan tinggi rendahnya suara.
  3. Tempo, yaitu tekanan cepat lambatnya pengucapan kata.
Rima adalah persamaam bunyi dalam puisi. Dalam rima dikenal perulangan bunyi yang cerah, ringan, yang mampu menciptakan suasana kegembiraan serta kesenangan. Bunyi semacam ini disebut euphony. Sebaliknya, ada pula bunyi-bunyi yang berat, menekan, yang membawa suasana  kesedihan. Bunyi semacam ini disebut cacophony.
Berdasarkan jenisnya, persajakan dibedakan menjadi
  1. rima sempurna, yaitu persama bunyi pada suku-suku kata terakhir.
  2. Rima tak sempurna, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada sebagian suku kata terakhir.
  3. Rima mutlak, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada dua kata atau lebih secara mutlak (suku kata sebunyi)
  4. Rima terbuka, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada suku akhir terbuka atau dengan vokal sama.
  5. Rima tertutup, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada suku kata tertutup (konsonan).
  6. Rima aliterasi, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada bunyi awal kata pada baris yang sama atau baris yang berlainan.
  7. Rima asonansi, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada asonansi vokal tengah kata.
  8. Rima disonansi, yaitu persamaan bunyi yang terdapaat pada huruf-huruf mati/konsonan.

Berdasarkan letaknya, rima dibedakan
  1. rima awal, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada awal baris pada tiap bait puisi.
  2. Rima tengah, yaitu persamaan bunyi yang terdapat di tengah baris pada bait puisi
  3. Rima akhir, yaitu persamaan bunyi yang terdapat di akhir baris pada tiap bait puisi.
  4. Rima tegak yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada bait-bait puisi yang dilihat secara vertikal
  5. Rima datar yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada baris puisi secara horisontal
  6. Rima sejajar, yaitu persamaan bunyi yang berbentuk sebuah kata yang dipakai berulang-ulang pada larik puisi yang mengandung kesejajaran maksud.
  7. Rima berpeluk, yaitu persamaan bunyi yang tersusun sama antara akhir larik pertama dan larik keempat, larik kedua dengan lalrik ketiga (ab-ba)
  8. Rima bersilang, yaitu persamaan bunyi yang tersusun sama antara akhir larik pertama dengan larik ketiga dan larik kedua dengan larik keempat (ab-ab).
  9. Rima rangkai/rima rata, yaitu persamaan bunyi yang tersusun sama pada akhir semua larik (aaaa)
  10. Rima kembar/berpasangan, yaitu persamaan bunyi yang tersusun sama pada akhir dua larik puisi (aa-bb)
  11. Rima patah, yaitu persamaan bunyi yang tersusun tidak menentu pada akhir larik-larik puisi (a-b-c-d)

Pendapat lain dikemukakan oleh Roman Ingarden dari Polandia. Orang ini mengatakan bahwa sebenarnya karya sastra (termasuk puisi) merupakan struktur yang terdiri dari beberapa lapis norma. Lapis norma tersebut adalah
1.      Lapis bunyi (sound stratum)
2.      Lapis arti (units of meaning)
3.      Lapis obyek yang dikemukakan atau “dunia ciptaan”
  1. Lapis implisit
  2. Lapis metafisika (metaphysical qualities)

IV. PARAFRASE PUISI 
Yang dimaksud parafrase adalah mengubah  puisi menjadi bentuk sastra lain (prosa). Hal itu berarti bahwa puisi yang tunduk pada aturan-aturan puisi diubah menjadi prosa yang tunduk pada aturan-aturan prosa tanpa mengubah isi puisi tersebut.
Perlu diketahui bahwa parafrase merupakan metode memahami puisi, bukan metode membuat karya sastra. Dengan demikian, memparafrasekan puisi tetap dalam kerangka upaya memahami puisi.
Ada dua metode parafrase puisi, yaitu
a.       Parafrase terikat, yaitu mengubah puisi menjadi prosa dengan cara menambahkan sejumlah kata pada puisi sehingga kalimat-kalimat puisi mudah dipahami. Seluruh kata dalam puisi masih tetap digunakan dalam parafrase tersebut.
b.      Parafrase bebas, yaitu mengubah puisi menjadi prosa dengan kata-kata sendiri. Kata-kata yang terdapat dalam puisi dapat digunakan, dapat pula tidak digunakan. Setelah kita membaca puisi tersebut kita menafsirkan secara keseluruhan, kemudian menceritakan kembali dengan kata-kata sendiri.

V. LEMBAR KEGIATAN SISWA

LATIHAN I
PERTANYAAN
a.       Citraan apa yang dominan dalam penggalan puisi di bawah ini!
b.      Gaya bahasa apakah yang dominan dalam penggalan puisi di bawah ini!
c.       Rima jenis manakah yang terdapat dalam penggalan puisi di bawah ini!
d.      Bagaimanakah feeling dalam penggalan puisi di bawah ini?
e.       Bagaimanakah tone dalam penggalan puisi di bawah ini?
f.        Apakah pokok persoalan yang ingin dikemukakan pengarang dalam penggalan puisi di bawah ini?

PENGGALAN PUISI
1.      laksana bintang berkilat cahaya,
di atas langit hitam kelam,
sinar berkilau cahya matamu,
menembus aku ke jiwa dalam
                              (Sebagai Dahulu, Aoh Kartahadimadja)
2.      Dua puluh tiga matahari
Bangkit dari pundakmu
Tubuhmu menguapkan bau tanah
                              (Nyanyian Suto untuk Fatima, Rendra)
3.      Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
Menyinggung muram, desir hari lari benerang
Menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
Dan kini, tanah, air tidur, hilang ombak
                              (Senja di Pelabuhan Kecil, Chairil Anwar)
4.      Betsyku bersih dan putih sekali
Lunak dan halus bagaikan karet busa.
Rambutnya merah tergerai
Bagai berkas benang-benang rayon warna emas.
Dan kakinya sempurna
Singsat dan licin
Bagaikan ikan salmon
                              (Rick dari Corona, Rendra)
5.      Engkau ibarat kolam di tengah-tengah belukar
Berteriak-teriak tenang
Membiarkan nyiur sepasang
Berderminkan diri ke dalam
Airmu …
                              (Engkau, Walujati)
6.      Aku sudah saksikan
Senja kekecewaan dan putus asa yang bikin tuhan Juga turut tersedu
Membekukan berpuluh nabi, hilang mimpi dalam kuburnya.
                              (Fragment, Chairil Anwar)
7.      Seruling di pasir tipis, merdu
Antara gundukan pepohonan pina
Tembang menggema di dua kaki
Burangrang – Tangkaubanperahu
                              (Tanah Kelahiran, Ramadhan KH)

8.      Tetapi istriku terus berbiak
Seperti rumput di pekarangan mereka
Seperti lumut di tembok mereka
Seperti cendawan di roti mereka
Sebab bumu hitam milik kami.
Tambang intan milik kami
Gunung natal milik kami
                        (Afrika Selatan, Subagio Sastrowardjoyo)
9.      Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerlu lagu
Menarik menari seluruh aku
                        (Sajak Putih, Chairil Anwar)
10.  Maka dalam blingsatan
      Ia bertingkah bagai gorilla
      Gorilla tua yang bongkok
Meraung-raung
Sembari jari-jari galak di gitarnya
Mencakar dan mencakar
Menggaruki rasa gatal di sukmanya
                                                            (Blues Untuk Bonnie, Rendra)

LATIHAN II
1.      Parafraseikan puisi berikut ini dengan metode parafrase terikat!
2.      Parafrasekan puisi berikut ini dengan metode parafrase bebas!

CERITA BUAT DIEN TAMAELA
(Chairil Anwar)

Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu.

Beta Pattirajawane
Kikisan laut
Berdarah laut.

Beta Pattirajawane
Ketika lahir dibawakan
Datu dayung sampan.

Beta pattirajawane, menjaga hutan pala.
Beta api di panta. Siapa mendekat
Tiga kali menyebut beta punya nama.

Dalam sunyi malam ganggang menari
Menurut beta punya tifa,
Pohon pala, badan perawan jadi
Hidup sampai pagi tiba.

Mari menari!
Mari beria!
Mari berlupa!

Awas jangan bikin beta marah
Beta bikin pala mati, gadis kaku
Beta kirim datu-datu!

Beta ada di malam, ada di siang
Irama ganggang dan api membakar pulau …

Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu.
 

BALADA TERBUNUHNYA ATMO KARPO
(WS Rendra)

Dengan kuku-kuku besi kuda menebah perut bumi
Bulan berkhianat gosok-gosokkan tubuhnya di pucuk-pucuk para
Mengepit kuat-kuat lutut menunggang perampok yang diburu
Surai bau keringat basah, jenawi pun telanjang

Segenap warga desa mengepung hutan itu
Dalam satu pusaran pulang balik Atmo Karpo
Mengutuki bulan betina dan nasibnya yang malang
Berpancaran bunga api, anak panah di bahu kiri

Satu demi satu yang maju terhadap darahnya
Penunggang baja dan kuda mengangkat kaki muka.

---Nyawamu barang pasar, hai orang-orang bebal!
Tombakmu pucuk daun dan matiku jauh orang papa.
Majulah Joko Pandan! Di mana ia?
Majulah ia kerna padanya seorang kukandung dosa.

Anak panah empat arah dan musuh tiga silang
Atmo Karpo tegak, luka tujuh liang.

---Joko Pandan! Di mana ia!
Hanya padanya seorang kukandung dosa.

Bedah perutnya atapi masih setan ia
Menggertak kuda, di tiap ayun menungging kepala

Joko Pandan! Di manakah ia!
Hanya padanya seorang kukandung dosa.

Berberita ringkik kuda muncullah Joko Pandan
Segala menyibak bagi reapnya kuda hitam
Ridla dada bagi derinya dendam yang tiba.
Pada langkah pertama keduanya sama baja.
Pada langkah ketiga rubuhlah Atmo Karpo
Panas luka-luka, terbuka daging kelopak-kelopak angsoka.

Malam bagai kedok hutan bopeng oleh luka
Pesta abulan, sorak sorai, anggur darah

Joko Pandan menegak, menjilat darah di pedang
Ia telah membunuh bapanya.












 An article about Indonesia

Indonesia: Kemarin, Hari Ini dan Esok
Oleh : Liza Wahyuninto, S.Hi

Masa lalu, kata Jose Ortega Y Gasset, adalah masa lalu bukan karena ia terjadi pada orang lain (pada masa lalu) tetapi karena ia membentuk bagian-bagian kehidupan kita di masa kini. Kita tidak bisa mengatakan tidak ada seseuatu apapun kecuali yang hadir pada masa kini. Karena ada masa lalu yang “aktif” pada masa kini (Ortega Y Gasset, “Histori as a System” dalam Hans Mayerhoff (ed.), The Philosophy of History in Our Time, 1959).
Tahun ini, genap sudah 66 tahun bangsa kita merasakan atmosphere kebebasan, yakni bebas dari imperialis fisik pihak luar. Dijajah dalam kurun waktu 350 tahun jelas banyak mempengaruhi perjalanan panjang Indonesia menjadi sebuah Negara. Tidak terkecuali dalam mental berpikir dan membangun bangsa. Melepaskan dari belenggu pemikiran sebagai bangsa yang dijajah tentunya berat dalam masa-masa awal kemerdekaan. Menjadilah kemerdekaan semu tanpa diisi apa-apa.
Selanjutnya, pasca kemerdekaan hingga kini menjadi sebuah pembuktian bahwa Indonesia memang pantas mendapatkan kemerdekaanya. Kemerdekaan yang diperjuangkan dan bukan sebagai hadiah dari penjajah atas sumbangsih membangun bangsa mereka dengan merampas sumber daya alam Indonesia. Hasil kerja nyata ini harus dibuktikan dengan fakta-fakta bahwa Indonesia bukan sekedar bangsa yang merayap dengan uluran tangan bangsa lain dan Bank Dunia.
Menatap masa depan Indonesia setidaknya memaparkan harapan akan kemerdekaan Indonesia selanjutnya di masa-masa mendatang. Progress besar menjadikan Indonesia bukan sekedar Negara yang diakui tetapi juga pro-aktif dalam membangun peradaban dunia.

Potret lampau
Dahulu ketika pra kemerdekaan Indonesia, seluruh rakyat bersatu berjuang melawan kolonial beserta “bandit-bandit” lainnya. Tak akan terbayang bagaimana mereka bersatu. Tak akan terbayang bagaimana mereka berjuang. Jika mengaca pada saat ini, Indonesisa adalah negara yang terdiri dari banyak kepulauan mulai dari sabang sampai merauke. Ada kepulauan Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Irian jaya.
Keragaman budaya melemahkan kohesi antar suku dan pulau, hal demikian sangatlah rawan. Usaha-usaha untuk mencoba menguatkan kohesi beberapa bagian atau seluruh Nusantara baik melalui penyatuan kekuatan politik seperti kerajaan-kerajaan atau ormas-ormas yang ada. Di samping penyatuan kekuatan politik, semua agama yang ada pun bersatu menjunjung perjuangan melawan imperialis denga pendidikan-pendidikannya. Inilah yang biasa disebut dengan masa nasionalisme klasik nusantara. Setelah berabad-abad berjuang atas dasar pertimbangan keagamaan, kepentingan-kepentingan perdagangan dan lain-lain, suatu perjuangan datang dari aspek pendidikan, pendidikan kolonial Belanda sendiri. Mungkin suatu akibat yang tak tersengaja, pendidikan muncul dan berkembang serta berdampak yang jauh lebih besar dari tujuan awal pendidikan itu. Maka lahirlah bibit-bibit nasionalisme modern berkat kepeloporan Dokter Wahidin Sudirohusodo dan Dokter Sutomo. Selain itu juga muncul bibit-bibit lainnya seperti, Budi Utomo dengan gerakan kultur priyayi Jawanya, lahirnya gerakan Sarekat Dagang Islam (SDI).
Dengan semangat persatuan Bung Karno, “Samen bundeling van alle krachten van de natie” yang artinya “Pengikatan bersama seluruh kekuatan bangsa”, ia dapat menyatukan seluruh semangat rakyat. Saat-saat itu juga terbersit keinginan adanya pengenal untuk pemersatu kebangsaan yang tengah tumbuh. Maka “Indonesia” yang muncul ke permukaan. Nama tersebut sudah lama tersimpan dalam khazanah antropologi (James Richardson Logan 1850) juga organisasi pelajar dan mahasiswa di Negeri Belanda pada waktu itu, Indonesisch Verbond van Studerenden, juga dalam pidato Bung Karno “Indonesia Menggugat”. Dalam perjuangan melawan imperialis tak sedikit yang gugur di medan perang. Mereka rela seluruh jiwa raganya jadi tombak untuk menancapkan cita-cita rakyat saat itu, “Merdeka”. Akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1945, Bung Karno memproklamasikan kemerdekaan bangsa ini sebagai suatu “bangsa”, bangsa Indonesia. Bangsa yang sama dengan bangsa-bangsa lainnya. Ia pun mulai membangun bersama sebuah cita-cita bangsa.

Potret pasca kemerdekaan sampai kini
Merdeka bukan berarti telah terlepas dari berbagai masalah. Mungkin penjajahan kolonial atau masalah yang datang dari pihak luar sudah tak tampak lagi, tapi melihat perjalanan bangsa kita pasca kemerdekaan tak henti-hentinya dilanda badai kehidupan bangsa.
Enam kali pergantian presiden menjadi bukti bahwa Indonesia tengah berusaha menjadi Negara demokratis. Pencarian akan sistem pemerintahan yang kuat terus dilakukan. Orde Lama mengandalkan Bung Karno dan semangat nasionalismenya yang tinggi, Orde Baru dengan semangat pembangunannya, Reformasi datang untuk merubah meskipun hasilnya hampir nihil, sampai datang Kabinet Indonesia Bersatu yang awal mulanya menghadirkan suasana yang sangat menjanjikan tapi kemudian di masa-masa selanjutnya menjadi sangat dipertanyakan.
Indonesia masih sedang mencari sistem dan pemimpin yang tepat untuk menjadi Negara besar. Keharusannya adalah tidak sekedar menjadikan pemimpin sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas pembangunan, karena ketika gagal dia pulalah yang menjadi satu-satunya orang yang akan diminta pertanggungjawabannya.

Harapan Kemerdekaan
Kemerdekaan adalah harapan seluruh rakyat. Namun makna dan inti kemerdekaan itu yang sangat penting. “Merdeka” dulu dan sekarang prospeknya tak sama meski serupa. Jika dulu ketika masa penjajahan, arti merdeka mungkin bebas dari jajahan colonial dan bandit-bandit lainnya. Namun, pasca “bebas dari penjajah luar” arti “merdeka” adalah tercapainya tujuan negara itu sendiri, yakni harapan menjadi good country yang mencakup good government dan adil dalam kemakmuran serta makmur dalam keadilan.
Introsfeksi dan tekad untuk bangkit adalah sebjata dan modal utama perubahan. Meski di dunia tak ada yang sempurna, akan tetapi berusaha untuk mendekati kesempurnaan itu lebih baik. Walau kemarin adalah sejarah, tapi sejarah merupakan “bagian dari proses” dan cermin untuk ke depannya. Kekurangan-kekurangan meski tak mengingkari keberhasilan kemarin adalah pelajaran untuk kita bersama.
Perjalanan panjang kemerdekaan Indonesia kemarin, kini dan esok adalah sebuah teladan yang tidak boleh dilupakan dan semangat untuk terus merubah dan berbenah serta untuk menatap gagasan brilian membangun ke arah yang lebih baik.
Walau dirasa cita-cita negara malah bertambah jauh dari kenyataan, adanya krisis multidimensional, maka berusaha pencapaian dan perubahan baik harus selalu dilakukan. Dan mungkin diperlukan kekuatan besar dan tangguh. Kekuatan-kekuatan tersebut akan terbentuk dengan adanya peneguhan kembali ikatan batin atau komitmen seluruh warga negara terhadap cita-cita nasionalnya, disertai rekonstruksi tekad untuk melaksanakannya. Muaranya satu, negara dengan masyarakat yang sejahtera, keadilan ditegakkan di atas segalanya dan gagasan yang terangkum dalam pancasila bukan sekedar cita-cita utopis belaka. Semoga.

Pages

@suryacinta. Diberdayakan oleh Blogger.

Labels

Our Partners

Categories

Resources

Bookmarks

Bintang Sahara

Semua lebih berarti, apabila dihayati.